Kubah Masjid Raya Bandung

Fast response info Kontraktor Kubah Masjid: +6281333735000 (Fauzan Al Fatih)

 

Kubah Masjid Raya Bandung

Kubah Masjid Raya Bandung

Ketika Anda datang berkunjung ke kota Bandung, anda pasti pernah mendengar tentang Masjid Raya Bandung yang digagas pembangunannya pada tahun 1810. Anda bisa menemukan tempat ini saat akan melakukan perjalanan ke Museum Asia Afrika, mengingat masjid ini terletak dekat dengan Gedung Merdeka dan Hotel Preanger disekitar gedung KAA. Sejak awal berdiri, masjid ini telah mengalami lebih dari 12 kali perombakan, sebelum akhirnya diresmikan oleh H.R Nuriana, yang merupakan Gubernur Jabar kala itu pada tanggal 4 Juni 2003. Hingga kini masjid yang dibangun diatas tanah seluas 23.448m2 tersebut mampu menampung sekitar 13.000 jemaah. Jika Anda ingin tahu lebih lanjut tentang daya tarik masjid Raya Bandung ini, coba simak informasi berikut.

Latar belakang dan perombakan

Pada awalnya, masjid ini dibangun pada tahun 1812 dengan desain sederhana, berupa panggung tradisional dengan atap daun rumbia, tiang kayu, dan dinding dari anyaman bambu. Salah satu sisi masjid dilengkapi pula dengan kolam yang digunakan sebagai tempat wudhu. Namun demikian, tahun 1825 terjadi kebakaran yang memaksa dilakukan perombakan pada masjid tahun 1826. Pada tahun 1950, atas perintah Bupati Bandung R.A Wiranatakusumah IV, masjid raya Bandung diganti atap serta temboknya menggunakan genteng dan batu bata. Perombakan berikutnya terjadi pada tahun 1875 dengan penambahan pondasi pagar yang mengelilingi halaman masjid. Selama perkembangannya, masyarakat sekitar kota Bandung menjuluki atap bangunan masjid dengan istilah bale nyuncung karena atap limas bersusun tiga yang mengerucut kearah atas. Perbaikan tempat mulai dilakukan untuk meningkatkan fungsi masjid pada tahun 1900, yaitu dengan menambah mihrab dan pawestren yang dapat digunakan masyarakat untuk menggelar acara pengajian, akad nikah, hingga Maulud Nabi. Pada tahun 1930, perombakan kembali dilakukan untuk bagian pendopo dengan menambahkan dua menara yang hingga saat ini menjadi ikon Masjid Raya Bandung. Sekitar tahun 1955, atas permintaan Presiden RI I Ir. Soekarno, bangunan masjid mengalami perubahan pada kubahnya, dimana awalnya kubah Masjid Raya Bandung berbentuk nyuncung diganti menjadi kubah yang berbentuk bawang dengan gaya khas Timur Tengah. Namun demikian, karena terpaan angin kencang, kubah bawang yang sudah terpasang diganti menjadi kubah masjid yang baru yang bentuknya lebih kearah bangunan setengah bola. Perombakan lain yang dilakukan tahun 1973 membuat bangunan masjid hampir seluruhnya berubah, mengingat lantai masjid dibuat bertingkat dan lantai yang digunakan untuk ruang shalat utama dan ruang mezanin. Tak hanya itu, kubah Masjid Raya Bandung juga dilengkapi dengan ukiran yang menunjukkan tulisan Allah setinggi 7m. Kubah utama tersebut dilengkapi dengan kubah lain yang berukuran lebih kecil yaitu 25m.

Arsitektur masjid

Dilihat dari arsitekturnya, Masjid Raya Bandung memiliki arsitektur yang paling berkesan di Bandung, karena ada banyak perangkat yang menjadikan masjid ini istimewa, diantaranya:

  1. Konstruksi space frame yang diterapkan pada kubah Masjid Raya Bandung dengan tujuan mengurangi beban material logam yang digunakan untuk kubah. Material ini kemudian ditutup dengan material kaca yang memberi tampilan cahaya penuh kedalam masjid.
  2. Bangunan menara kembar yang dipasang disisi kanan dan kiri masjid dengan tinggi 81m, dimana masyarakat umum bisa menikmati bangunan ini dengan biaya yang sangat terjangkau setiap Sabtu dan M
  3. Saat pengunjung naik ke lantai 19 yang ada di puncak menara, pengunjung bisa menikmati berbagai pemandangan Kota Bandung. Namun demikian, batas umum pengunjung setiap shiftnya adalah 80 orang.

Interior Masjid Raya Bandung

Ketika Anda sebagai pengunjung masuk ke bagian dalam Masjid Raya Bandung, Anda akan menjumpai mimbar yang berukuran sangat besar dengan lantai keramik yang dicat dengan cat pelapis sehingga warna yang dihasilkan terlihat mengkilap. Pilar-pilar yang menghiasi tempat ini juga terlihat kokoh. Secara umum, Masjid Raya Bandung yang juga dikenal dengan nama Masjid Agung Bandung ini memiliki dua bagian utama, yaitu:

  1. Ruang aula yang biasa digunakan untuk menggelar acara kajian agama, pernikahan, maupun acara keagamaan lainnya.
  2. Ruang shalat utama yang keberadaannya terpisah dari bagian depan masjid dan ruangnya relatif lebih luas dan dihubungkan dengan jembatan untuk menuju ruang wudhu.
  3. Interior didalam masjid juga dilengkapi dengan ornamen kaligrafi yang kental dengan budaya Sunda.
  4. Dinding bagian dalam dihias dengan menggunakan batu alam yang memiliki kualitas tinggi dan pada bagian atapnya menggantung beberapa lampu yang menambah keunikan pemandangan masjid pada malam hari.
  5. Dari bagian dalam Masjid Raya Bandung, Anda bisa berjalan ke area basement yang sekarang ini sedang dirancang sebagai tempat berjualan para PKL yang ada di Kota Bandung dengan harapan masyarakat yang datang untuk beribadah bisa bersantai juga di halaman basement masjid.

Setelah melihat latar belakang maupun karakteristik yang diusung oleh Masjid Raya Bandung, anda bisa menyempatkan diri datang untuk menyaksikan langsung kemegahan masjid terbesar yang ada di kota Bandung ini. Anda bisa datang untuk beribadah di tempat ini setelah menghabiskan waktu seharian untuk mendatangi lokasi wisata bersejarah yang ada di sekitarnya seperti museum KAA maupun gedung balaikota. Namun demikian, agar Anda tidak tersesat saat datang ke masjid, tak ada salahnya untuk mengajak saudara Anda yang asli Bandung.

Baca juga: Harga Kubah Masjid

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *